Kenyataan ini memang sering dilupakan banyak orang khususnya para Hamilul Quran. Banyak dari mereka yang menyangka bahwa maksiat tak berpengaruh apapun terhadap hafalan Al-Quran mereka. Padahal bila kita telaah lebih jauh bahwa seluruh dari Al-Quran adalah ilmu. Baik dalam pengucapan, segi melagukan bacaan, pendalaman Sains, ilmu Ushuluddin, tasawuf dan tauhid, dan ilmu-ilmu lainnya yang tersirat di dalamnya. Bila Anda setuju bahwa Al-Quran seluruhnya adalah ilmu, maka ungkapan "Ilmu adalah cahaya Allah. Dan cahaya Allah tak tersedia bagi orang yang bermaksiat dan zholim" tentu berlaku pada bahasan ini.
Bila kita ketahui bersama tentang makna maksiat yang dalam segi terminologi bukan hanya pada kata zina, maka yang lahir dari perihal ini adalah bahwa tidur yang tanpa kita sadari setelah azan dan sebelum melaksanakan salat walaupun sebentar dengan sikap hati yang tahawun merupakan bagian dari maksiat juga. Begitupun lisan yang menjanjikan sesuatu tanpa ada bukti, kaki yang dijalankan menuju hal yang Allah larang, mata yang dengan lihai memandang sesuatu yang mengundang nafsu, telinga yang sedap mendengar berita yang tak ada yang dapat menjamin kebenarannya, dan lain sebagainya, merupakan bagian dari maksiat yang selama ini kita lalai terhadapnya atau bahkan tak peduli karena tak tahu.
Dengan semua deskripsi di atas, bermaksiatlah wahai Ahlul Quran, bila kau tak mau merasakan manisnya iman dari berkah bacaan Al-Quran. Bermaksiatlah jika kau berharap Allah murka terhadapmu. Bermaksiatlah bila kau tak takut hatimu terselimuti titik hitam yang berevolusi menjadi pekat bak taburan tinta yang tumpah ke kertas putihmu itu.
Dalam Kitab Washiyyat al-Mushthofa sendiri, penjelasan ini jelas dalam pernyataan bahwa semua pihak yang terlibat dalam suatu maksiat tertentu akan terjerumus pada penyesalan. Dalam waktu dekat maupun kelak. Apalagi bila kau menyinggung perihal akhirat, akan jauh lebih berat dan pedih rasa penyesalan yang akan kau terima. Ditambah kau adalah seorang penghafal dengan titel tertinggi di sisi Allah setelah para malaikat, Rasul, waliyullah dan para sahabat, yakni sebagai keluarga.



