Senin, 28 Januari 2019

Menjauhi Maksiat

Kenyataan ini memang sering dilupakan banyak orang khususnya para Hamilul Quran. Banyak dari mereka yang menyangka bahwa maksiat tak berpengaruh apapun terhadap hafalan Al-Quran mereka. Padahal bila kita telaah lebih jauh bahwa seluruh dari Al-Quran adalah ilmu. Baik dalam pengucapan, segi melagukan bacaan, pendalaman Sains, ilmu Ushuluddin, tasawuf dan tauhid, dan ilmu-ilmu lainnya yang tersirat di dalamnya. Bila Anda setuju bahwa Al-Quran seluruhnya adalah ilmu, maka ungkapan "Ilmu adalah cahaya Allah. Dan cahaya Allah tak tersedia bagi orang yang bermaksiat dan zholim" tentu berlaku pada bahasan ini. 


Bila kita ketahui bersama tentang makna maksiat yang dalam segi terminologi bukan hanya pada kata zina, maka yang lahir dari perihal ini adalah bahwa tidur yang tanpa kita sadari setelah azan dan sebelum melaksanakan salat walaupun sebentar dengan sikap hati yang tahawun merupakan bagian dari maksiat juga. Begitupun lisan yang menjanjikan sesuatu tanpa ada bukti, kaki yang dijalankan menuju hal yang Allah larang, mata yang dengan lihai memandang sesuatu yang mengundang nafsu, telinga yang sedap mendengar berita yang tak ada yang dapat menjamin kebenarannya, dan lain sebagainya, merupakan bagian dari maksiat yang selama ini kita lalai terhadapnya atau bahkan tak peduli karena tak tahu. 

Dengan semua deskripsi di atas, bermaksiatlah wahai Ahlul Quran, bila kau tak mau merasakan manisnya iman dari berkah bacaan Al-Quran. Bermaksiatlah jika kau berharap Allah murka terhadapmu. Bermaksiatlah bila kau tak takut hatimu terselimuti titik hitam yang berevolusi menjadi pekat bak taburan tinta yang tumpah ke kertas putihmu itu.


Dalam Kitab Washiyyat al-Mushthofa sendiri, penjelasan ini jelas dalam pernyataan bahwa semua pihak yang terlibat dalam suatu maksiat tertentu akan terjerumus pada penyesalan. Dalam waktu dekat maupun kelak. Apalagi bila kau menyinggung perihal akhirat, akan jauh lebih berat dan pedih rasa penyesalan yang akan kau terima. Ditambah kau adalah seorang penghafal dengan titel tertinggi di sisi Allah setelah para malaikat, Rasul, waliyullah dan para sahabat, yakni sebagai keluarga.



Sabtu, 26 Januari 2019

Perbaikan Niat

Jika seseorang menyinggung perihal niat, tak ayal bahwa pembahasan ini merupakan salahsatu bagian dari tubuh terpenting diterimanya amal ibadah. Bahkan pada hadits Shahih Bukhari, pembahasan pertama menyangkut niat. Termaktub dalam kitab Arba'in Nawawi karya Imam Nawawi Al-Bantani Halaman awal.


Dalam peribadatan, niat merupakan hal yang rawan penyelewengan. Tak dapat kita pungkiri memang, keberadaan seorang insan dengan insan lainnya yang selalu berdampingan ini menjadi ujian keikhlasan mereka. Oleh karena itu, nilai ibadah seseorang yang ikhlas di kerumunan orang akan lebih berat dibanding orang yang menyendiri di gelap malam tanpa ada seorangpun yang melihat. 

Hamilul Quran adalah mereka yang senantiasa menjaga bacaan, ingatan, hati, dan amalnya sesuai petunjuk kitab yang ia hafal. Para Hamilul Quran ini terkadang menjadi sorotan banyak orang dalam bidang agama dan sosial. Karena survei delapan Universitas di Indonesia juga menilai bahwa seorang Hamilul Quran yang terjaga hafalannya adalah mereka yang memiliki IQ di atas rata-rata. Mereka bagaikan emas yang apabila kau taruh di tempat sampah pun akan selalu berharga. Mereka memiliki citra tersendiri sebagai makhluk Allah yang mulia. Bagaimana tidak mereka tak dikatakan mulia sedangkan waktunya hanya dihabiskan bersama kalamullah.



Tentunya bagi mereka yang telah menyelesaikan hafalannya, terlebih dahulu mendapati kesulitan yang tak biasa dihadapi oleh orang lain. Dimulai dari kesulitan membagi waktu, kesulitan menjaga diri dari hal yang kurang bermanfaat, kesulitan beristiqomah dalam bermurojaah, serta kesulitan-kesuitan lainnya. Dan penulis rasa, yang paling sukar dari semua kesulitan yang pernah mereka lalui adalah kesulitan menjaga hati agar tetap ikhlas. Maka dari itu, bagi pribadi yang hendak menghafal atau bercita-cita menjadi penghafal Al-Quran hendaklah memiliki mental yang kuat dan siap berperang dengan musuh terberat yakni hawa nafsu. Jangan lupa berdoa agar selamanya diberi keikhlasan sampai akhir hayat.

Selain untuk mensterilkan hati dari syirik sughra, niat juga berfaidah untuk mempercepat daya ingat jangka panjang. Karena motivasi utamanya hanyalah Allah. Selama hidupnya tentu dia hanya berharap agar Allah menyayanginya dan mengampuni dosanya seiring banyaknya ayat yang telah dan/atau akan ia baca. Dan jiwa seperti inilah yang Rasul dambakan. Maka dari itu, mereka akan lebih fokus dan mantap daya ingatnya.

Ini adalah kata kunci utama. Bersabarlah wahai penghafal Quran. Beristirahatlah nanti di surga.